Resensi Film Miracle in Cell No.7 : Pelajaran Berharga Untuk Selalu Bersikap Baik

  

Film ini cukup menguras emosi saya, bahkan dalam 15 menit penayangan saja sudah cukup membuat air mata saya mengalir. I’m seriously, I cry easily.

Film yang disutradarai oleh Lee Hwan Kyung ini berasal dari negeri ginseng. Ditayangkan pada tahun 2013 dan bercerita tentang seorang ayah yang memiliki keterbelakangan mental dan dituduh telah melakukan penculikan, pembunuhan, dan pemerkosaan terhadap seorang anak kecil dari seorang Komisaris

Kisah ini berawal dari ketika anaknya yang bernama Yesung menginginkan sebuah tas sailormoon yang sering ia lihat di sebuah toko bersama sang ayah yang bekerja sebagai tukang parkir. Bertepatan keesokan harinya sang Ayah mendapatkan upah kerjanya, Yesung dan Ayahnya merasa senang karena membayangkan dapat memiliki tas tersebut. Namun sayangnya tas tersebut sudah terjual yang tidak lain dibeli oleh anak Komisaris. Ayah Yesung yang melihat itu langsung berlari ke dalam toko dan mengatakan bahwa tas itu milik Yesung berulang-ulang kali. Pak Komisaris merasa kesal dan langsung memukuli Ayah Yesung.

Keesokan harinya, ketika Ayah Yesung sedang istirahat makan siang, anak sang Komisaris mendatanginya. Mengatakan bahwa ada tas sailormoon di toko lain. Sontak Ayah Yesung mengikutinya dari belakang yang kemudian melewati pasar sepi. Namun tiba-tiba si anak tersebut sudah terkapar dan seorang ibu muda mendapati Ayah Yesung sedang membuka resleting celana dan mencium bibir si anak.

Kejadian tersebut membuat Ayah Yesung ditetapkan menjadi tersangka dan dijebloskan ke penjara. Ayah Yesung dimasukkan ke dalam sel no. 7 bersama lima tahanan, antara lain: Bong Shik (Kasus Pencopet), Chun Ho (Kasus Penipuan), Man Beom (Kasus Perzinahan), Kakek Seo (Kasus Penipuan), dan si Leader (Gangster Penyelundupan).

 

 

Kebaikan Lee Young Go (ayah Yesung) selama di dalam sel membuat lima tahanan tersebut berubah menjadi sosok yang saling menyayangi. Hal ini juga membuat kelima teman selnya tidak mempercayai tuduhan atas Lee Young Go. Mereka juga memberikan kejutan besar dengan mempertemukan Ayah Yesung dengan Yesung. Juga mengupayakan pembebasan hukuman mati yang akan dijatuhkan kepadanya.

 


 

Akan tetapi, tekanan besar yang datang dari komisaris polisi, membuat ayah Yesung mau tidak mau membuat pengakuan palsu yang akhirnya ia dijatuhi hukuman mati. Kasus tersebut membuat Yesung bertekad menjadi jaksa pembela untuk melakukan pemeriksaan ulang atas kasus tersebut dan membersihkan nama ayahnya.

Film ini membawa pesan yang sangat dalam tentang arti berbuat kebaikan. Kebaikan dapat merubah seburuk-buruknya orang menjadi lebih baik. Di film ini juga menunjukkan betapa seorang Ayah rela melakukan apapun bahkan nyawanya sendiri untuk membuat anaknya tetap hidup dan bahagia

Kal So-Won yang memerankan Yesung berhasil membuat film bergenre drama ini menjadi sempurna. Wajahnya yang polos serta senyumnya yang ceria membawa kehangatan di setiap scenenya, begitupun akting menangisnya berhasil membuat saya berurai air mata.

Adegan demi adegan yang bisa mengoyakkan hati penontonnya pun disajikan dengan begitu kuat dengan penuturan yang apa adanya. Penggunaan alur maju mundur dalam film ini pun berhasil memberikan nyawa serta atmosfir kepada penonton. Kemudian, Lee Hwan Kyung sang sutradara juga menyelipkan unsur komedi ke dalam film ini.

Rate: 9.0/10 dari saya untuk film ini.

Komentar